E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

HERMENEUTIK DALAM STUDI ISLAM Dalam buku : Atas Nama Tuhan (Dari Fiqh otoriter ke fiqh otoritatif) Telaah pemikiran Khaled Abou El Fadl : Kajian Buku Islam dalam Perspektif Hermeneutik

Dibaca: 348 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: Sumanto, MSI. lihat profil
pada tanggal: 2018-04-26 05:37:47 wib


HERMENEUTIK DALAM STUDI ISLAM
Dalam buku : Atas Nama Tuhan (Dari Fiqh otoriter ke fiqh otoritatif)
Telaah pemikiran Khaled Abou El Fadl : Kajian Buku Islam
dalam Perspektif Hermeneutik


A. Pendahuluan
Dimasa sekarang kajian kritis keagamaan menghadapi babak baru. Tepatnya setelah ilmu penafsiran teks dan kajian kritis keagamaan, yang lazim disebut hermeneutik, diadopsi oleh sebagian kalangan umat Islam. Dari sisi keilmuan mungkin sah-sah saja menjadi tidak sah. Bagi banyak kalangan, kajian kritis keagamaan lewat pendekatan hermeunetik tidak begitu populer dan untuk kalangan tertentu cenderung dihindari. Pasalnya, hermeneutik merupakan tradisi yunani yang kemudian diadopsi oleh Kristen yang digunakan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh Bible.
Dalam perkembangan hukum Islam, keputusan hukum dan peraturan penguasa tidak mengikat para ahli hukum. Keputusan hukum dan peraturan penguasa mungkin memiliki kekuatan hukum yang mengikat dalam konteks masa itu, tapi keduanya bukan merupakan bagian integral dari doktrin formal hukum Islam. Hanya fatwa yang dikeluarkan oleh para ahli hukum dan tulisan-tulisan sistematis para pakar hukum saja yang dipandang sah sebagai ekspresi kehendak Tuhan. Ketetapan hukum dari para hakim terkemuka sering kali dimasukkan ke dalam peraturan formal hukum Islam, tapi hanya ketika hakim-hakim tersebut mampu membuktikan dirinya sebagai seorang sarjana yang ahli dibidang hukum, bukan semata –mata karena jabatan resmi mereka.
Oleh karena itu, sumber-sumber hukum kaum muslim sebagian besar tidak mempertahankan ketentuan hukum dan dan peraturan para penguasa kerajaan Islam, tapi hanya memuat secara detail pendapat-pendapat dan contoh-contoh pakar hukum yang terkenal sepanjang sejarah Islam. Fenomena ini sebagian memberi penjelasan pada karakter hukum Islam yang tidak terbenguk dan dinamis, yang termuat dalam ratusan jilid kitab yang merekam nasihat hukum yang berusia ratusan tahun. Hal ini juga menegaskan kenyataan bahwa hukum Islam berkembang melalui sebuah proses kumulatif, evolutif, dan seringkali dialektis.
Kegelisahan akademik Khaled Aboe El Fadl bermula dari munculnya fatwa yang bias gender dalam fatwa-fatwa keagamaan Islam yang dikeluarkan oleh ahli hukum agama Islam pada CRLO (Council for Scientic Research and Legal Opinions), yang telah merampas kewenangan Tuhan dan hak-hak Tuhan dalam kehidupan beragama.
Kegelisahan akademik berikutnya adalah muncul dari sebuah pertanyaan, apakah pemahaman kita atas makna-makna dari Kitab Suci Al-Qur’an dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari membuat sesama kita, tetangga kita atau saudara-saudara kita merasa damai hidup berdampingan dengan kita ?
Berangkat dari kegelisahan akademik tersebut, kiranya pentingnya penelitian ini adalah untuk memberikan pemaknaan baru dalam relasi Tuhan, Ulama, dan umat. Khaled menyatakan bahwa ‘wewenang’ seorang Ulama adalah suatu wewenang yang tentatif dan tidak mutlak. Wewenang tersebut lahir dari besarnya tanggung jawab, metodologi, dan persyarat lainnya. Hasil pemikiran atau penafsiran seorang ulama atas maksud dan kehendak Allah di dalam kitab Suci-Nya sangat ditentukan oleh ketekunan, ketelitian, kehati-hatiannya dan tentu saja manfaatnya bagi seluruh manusia.
Kajian ini sebagai kelanjutan dari karya Khaled sebelumnya berjudul “The Authoritative and Authoritarian in Islam Discourse : A Case Studi”. Dengan menghapus semua pengacuan kepada organisasi Islam yang berbasis di Amerika Serikat berikut fatwanya, Khaled melalui karya ini ingin mengembangkan sebuah pendekatan yang lebih komprehensif tentang persoalan otoritas dalam hukum Islam.
Metode yang digunakan oleh Khaled adalah normatif, hermeneutika, dan menerima tradisi hukum sebagai bagian dari komunitas makna yang relevan.
Ruang lingkup kajiannya adalah pada fiqh Islam (hukum Islam/yurisprudensi Islam). Adapun kontribusi terhadap keilmuan Islam adalah ingin mengembalikan ilmu yurisprudensi Islam sebagai epsitimologi dan sekaligus sebagai metode penelitian (a methodology of inquiry), bukan sebagai diskursus keilmuan keIslaman yang beraroma politis dan otoriter.
Sistematika pembahasan dalam kajian ini dimulai menguraikan persoalan akademik yang ia hadapi. Kemudian ia membangun dasar-dasar untuk melakukan analisis krisis tentang penyalahgunaan praktik hukum di dunia Islam modern. Lalu ia menyajikan studi kasus seputar proses terbentuknya otoritarianisme dalam praktik hukum Islam di dunia modern. Kebanyakan studi kasus itu berfokus pada fatwa (reponsa) tentang persoalan perempuan.

B. Kegelisahan Akademik
Dalam tradisi Islam, teks Suci (Al-Qur’an) merupakan representasi dari ‘otoritas’ (kewenangan) Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak seorangpun mengabaikan Kitab Suci. Seorang muslim yang tulus yang selalu merujuk kitab sucinya ketika menghadapi masalah di dalam kehidupannya. Ketika masih hidup, Nabi dipandang sebagai orang yang otoritatif (paling berwenang), memiliki persyarat yang dapat dipercaya, untuk menafsirkan semua kehendak Allah. Wewenang atau otoritas Nabi ditetapkan secara tertulis di dalam Al-Qur’an. Selain itu wewenang beliau juga tercermin dalam perilaku dan visi moral yang terpancar dalam kehidupan beliau.
Setelah Nabi Saw meninggal, Al-Qur’an dan catatan mengenai seluruh dimensi kehidupan Nabi menjadi rujukan para penganut agama Islam. Kedua sumber ini sampai hari ini masih menjadi rujukan utama dalam kehidupan umat Islam. Tapi persoalan tidak selesai pada titik ini. Pertanyaannya, apakah kedua teks tersebut berbicara sendiri ? apakah kedua sumber tersebut bisa menyelesaikan persoalan manusia sendiri ? apakah pemahaman kita atas makna-makna dari kitab suci Al-Qur’an dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari membuat sesama kita, tetangga kita atau saudara-saudara kita merasa damai hidup berdampingan dengan kita?
Sepeninggal Nabi, sahabat-sahabat dengan integritas moral yang tinggi mendapatkan wewenang atau menjadi sumber rujukan dalam memahami maksud dan kehendak Allah SWT. Wewenang sahabat-sahabat dengan integritas moral mereka, seperti ditunjukkan Abu Bakar atau Umar bin Khattab.
Krisis politik dan badai perubahan semakin kuat dan cepat dikalangan umat Islam. Sepeninggal sahabat-sahabat yang otoritatif tersebut, kekuasaan politik mengambil alih wewenang secara sewenang-wenang. Mua’wiyah yang berkuasa mengatakan, bahwa dirinya yang memiliki wewenang yang pernah dimiliki oleh nabi dan sahabat-sahabatnya.pada saat itu, sejumlah ulama sudah mulai muncul diberbagai wilayah kekuasaan umat Islam. Mereka ini biasanya menolak predikat-predikat politik yang ditawarkan. Kuluhnya kekuasaan politik membuat para ulama lebih bersikap hati-hati dalam mengambil sikap. Pada satu sisi mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk masyarakat dan agama, pada sisi lain mereka terus ditekan oleh kekuasaan untuk melegitimasi kekuasaan mereka.
Contoh lainnya,misalnya, ketika Khalifah al-Manshur meminta Imam Malik menjadikan kitabnya al-muwatha’ sebagai undand-undang Negara dan ia menolak, karena beliau yakin akan banyak tidak sesuai dengan pendapat-pendapat ulama lain diberbagai wilayah lain. Sikap Imam Malik ini menunjukkan tingginya integritas, muru’ah, dan sikap toleran atas perbedaan. Dan menurut Khaled Abou el-Fadl, dibalik penolakan Imam Malik tersebut tersirat, bahwa posisi seorang fuqaha adalah sebagai mediator, jembatan, atau penengah antara berbagai kepentingan di dalam komunitas umat Islam. Imam Malik juga menunjukkan bahwa seorang ulama tidak boleh terkooptasi oleh kekuasaan politik.
Lebih dari itu, kajian ini hadir karena dipicu oleh persoalan bias gender dalam fatwa-fatwa keagamaan Islam yang dikeluarkan oleh ahli hukum agama Islam pada CRLO (Council for Scientic Research and Legal Opinions, Lajnah al Da’imah li al Buhuts al –Ilmiyyah wa alfa’, Lembaga Pengkajian Ilmiah dan Fatwa). Mereka seolah-olah telah menjadi Tuhan dan merampas “hak” Tuhan, dalam kehidupan umat beragama.

C. Pentingnya Topik Penelitian
Penelitian Khaled Aboe El Fadl, penting untuk memberikan pemaknaan baru dalam relasi Tuhan, Ulama, dan umat. “wewenang” seorang ulama atau intelektual sangat ditentukan oleh cerminan moral, integritas, kepribadiannya, dan sikap independennya. Khaled mengatakan, bahwa, ‘wewenang’ seorang ulama sangat ditentukan oleh kejujuran, kesungguhan, kemenyeluruhan dan rasionalitas yang dimilikinya. Rasionalitas misalnya, walaupun abstrak tetapi rasionalitas tidak pernah bertentangan dengan kesepakatan tentatif dari sebuah komunitas dalam menentukan posisi sesuatu. Orang yang rasional tidak mungkin dikelabui dengan perubahan penampilan pakaian seorang koruptor besar. Mereka tetap saja mengenalinya dengan segala perubahannya.
Dengan demikian, ‘wewenang’ seorang ulama adalah suatu wewenang yang tentatif dan tidak mutlak. Wewenang tersebut lahir dari besarnya tanggung jawab, metodologi, dan persyarat lainnya. Hasil pemikiran atau penafsiran seorang ulama atas maksud dan kehendak Allah di dalam kitab Suci-Nya sangat ditentukan oleh ketekunan, ketelitian, kehati-hatiannya dan tentu saja manfaatnya bagi seluruh manusia.

D. Hasil Penelitian Terdahulu
Abou El Fadl telah mengkaji beberapa beberapa tokoh hermeneutik, diantaranya, :
1. Habermas. Habermas adalah seorang tokoh mitologis yang bertugas menterjemahkan pesan-pesan Tuhan kedalam bahasa yang dimengerti manusia. Hal ini tampak dari teori dasarnya tentang pengarang (author), pembaca (reader), dan teks. Asumsi dasar teori hermeneutik, seorang pembaca teks (reader) tidak memiliki akses langsung kepada penulis atau pengarang teks karena perbedaan ruang, waktu dan tradisi. Pengarang mengekspresikan diri dalam bahasa teks, dengan demikian ada bahasa subjektif. Maka bagaimana membawa keluar makna-makna subjektif sebagai objektif kepada orang lain. Boleh jadi dapat dikatakan bahwa hermeneutik dapat mengungkapkan horizon masa lalu kepada dunia masa kini dan perkembangan selanjutnya muncul hermeneutik sebagai kritik.
2. Ibnu Khaldun. Dia berpendapat bahwa sebuah tradisi akan mati, kering dan mandeg jika tidak dihidupkan secara konsisten melalui penafsiran ulang sejalan dengan dinamika sosial. Abou El Fadl, menganalisis persoalan fatwa-fatwa hukum dengan menggunakan pendekatan hermeneutik. Pendekatan hermeneutik yang digunakan Abou El Fadl berbeda denagn tradisi hermeneutik yang digunakan dilingkungan Biblical Studies. Hermeneutik yang digunakan dalam studi Islam dipicu oleh persoalan-persoalan bias gender atau persoalan fatwa-fatwa hukum yang terkait dengan masalah perempuan yang memiliki dampak luas dalam masyarakat muslim.
Buku ini merupakan kelanjutan penelitian Khaled dengan judul The “Authoritative and Authoritarian in Islam Discourse : A Case Study”. Dalam buku ini menggunakan metode studi kasus dengan memfokuskan pembahasan pada fatwa sebuah organisasi Islam sebagai acuan untuk memunculkan berbagai persoalan-persoalan yang lebih luas seputar depotisme dalam praktik hukum Islam kontemporer.
Berbeda dengan buku sebelumnya, melalui buku Atas Nama Tuhan ini, Khaled ingin mengembangkan sebuah pendekatan yang lebih komprehensif tentang persoalan otoritas dalam hukum Islam, dengan menghapus semua pengacuan kepada organisasi Islam yang berbasis di Amerika Serikat berikut fatwanya.

E. Metode Penelitian
M. Amin Abdullah, dalam kata pengantar buku ini, mengemukakan bahwa metodologi yang digunakan oleh Khaked Abou El Fadl dalam penelusurannya terhadap teks, tidak lain adalah metode hermeneutika. Akan tetapi, M. Ami Abdullah, juga belum bisa mengkategorikan hermeneutika apa yang digunakan oleh Abou El Fadl. Beliau hanya menyebutkan bahwa Abou El Fadl menyuguhkan kajian “hermeneutika yang tergolong baru” dalam meneliti persoalan otoritas. Kajian Abou El Fadl menurut beliau, bersifat “inter” dan “multidisipliner”, karena melibatkan berbagai pendekatan : linguistic, interpretive social science, literally cristicism, selain ilmu-ilmu keIslaman yang baku, mulai dari “mustalah al hadis, rijal al hadis, ushul fiqh, tafsir, kalam”, yang kemudian dipadukan dengan humaniura kontemporer.
Lebih lanjut, menurut M. Amin Abdullah, Aboe El Fadl, dengan hermeneutikanya ingin mensejajarkan posisi teks (text), pengarang (Author), dan pembaca (reader). Menurut Abou El Fadl, masing-masing dari ketiganya memiliki dimensi dan otoritsnya sendiri-sendiri. Pemahaman teks memang seharusnya merupakan produk interaksi yang hidup antara pengarang, teks, dan pembaca.
Metologi Abou El Fadl bersifat analitis dan normatif. Dia menempatkan dirinya sebagai orang yang mengamati “tradisi hukum Islam”. Abou El Fadl percaya pada autensitas al Quran sebagai wahyu dan pada keNabian Muhammad. Tetapi disisi lain dia juga percaya bahwa metodologi tafsir “otoriter” akan menggerogoti “integritas teks-teks Islam”, meredupkan suaranya dan dapat mengikis daya guna kekuatan hukum Islam.
Terasa baru dari Abou El Fadl dalam mendekati dan menelaah persoalan fatwa keagamaan lewat pendekatan hermeneutik yang mendalam dan tajam, serta implikasinya dalam studi keIslaman secara menyeluruh serta konsekuensinya pada praktek keagamaan Islam dalam kehidupan dan untuk menghadapi isu-isu konemporer.
Untuk mencegah dan menghindari atas kesewenang-wenangan antara pengarang, teks dan pembaca yang secara tergesa-gesa mengatasnamakan sebagai penerima perintah Tuhan. Abou El Fadl mengusulkan lima syarat khusus sebagai katup pengaman agar supaya tidak dengan mudah pembaca melakukan tindakan sewenang-wenang dalam menentukan fatwa-fatwa keagamaan yaitu komitmen terhadap nilai-nilai yang menjadi faktor penentu, seperti : (1) kejujuran (2) sifat sungguh-sungguh, (3) pengendalian, (4) menyeluruh, mempertimbangkan berbagai aspek lain yang terkait, (5) rasional, mendahulukan tindakan yang masuk akal. Nilai-nilai ini merupakan standar otorotif yang harus menjadi dasar untuk membangun gagasan tentang otorotif dalam Islam. Lima dasar ini dapat dijadikan sebagai parameter uji shahih untuk meneliti berbagai kemungkinan pemaksaan teks sebelum harus memutuskan dan merasa yakin bahwa dirinya mengemban sebagai perintah Tuhan atau tunduk kepada Tuhan dan hormat kepada teks (perintah) menuntut manusia untuk menerapkan pengadilan diri ketika berbicara atas nama Tuhan dan teks.
Contoh-contoh :
1. Seorang Istri Harus Mematuhi Suaminya Dalam Semua Persoalan Duniawi.
Para ahli hukum CRLO dan sebenarnya ahli hukum lain pada masa modern, menegaskan bahwa seorang istri dituntut untuk mematuhi suaminya selama perintah suaminya itu bisa di benarka. Biasanya hal tersebut berarti bahwa seorang istri harus mematuhi suaminya jika ia memerintahkannya untuk tidak meninggalkan rumah tidak mengunjingi teman-temannya, tidak memasak masakan suku Indian, atau tidak mengenakan baju malam atau gaun tidur neneknya di kamar tidur.
Dengan kata lain seorang istri harus mematuhi suaminya dalam semua persoalan duniawi. Jika seorang suami mengajak istrinya ketempat tidur,ia harus segera melayaninya. Jika seorang isri berniat puasa, di luar Ramadan, ia harus mendapar izin dari suamunya. Bahkanmenurut beberapa hadits yang akan didiskusikan nant, seorang istri harus mematuhisuaminya mskipun suaminya salah dan tidak adil. Biasanya para ahli huku ini mengutip ayat Al-Qur’an yang menyatakan “kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwamun)bagi kaum perempuan,oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dank arena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” kata yng digunakan dalam yat tersebgut qawwamun, bisa berarti “pelindung”, “pemelihara” “penjaga” ayau bahkan “pelayan”.
Kata yang sama digunakan dalam Al-Qur’an dalam konteks yhang berbeda, yaitu ketika orang-oang Islam diperintahkan untuk menjadi qawwamun keadilan. Biasanya mereka yang setuju dengan CRLO menegaskan bahwa ayat tersebut menjadi bukti tambahan bahwa seorang suami berhak untuk menyuruh dan mendisiplinkan istrinya. Saya telah membahas persoalan ketaatan pada suami dan apa yang disebut dengan ayat “pemukulam” dalam tulisan saya yang lain maka tidak perlu lagi mengulangnya kembali disini.
Dalam konteks ini cukup dikatakan di sini bahwa ayat tersebut tidak menentukan hasil akhir masalah ini. Bagi satu pihak kata qawwamun mengandung kekurangjelasan,yang lebih penting lagi, ayat tersebut tampaknya meletakkan status pemelihraan, penjaga atau pelindung atau berdasarkan kemampuanobyektif seseorang, seeperti kemampuan dalam memberikan nafkah.
Jika seorang prempuan menjadi pencari nafkah yang utama,ia berhak menanggung tugas menjadi penjaga. Lebih jauh lagi jika tanggung jawab keuangan dipikul bersama antara suami dan istri maka keduanya menjadi penjaga satu sama lain. Lebih jauh lagi, Al-Qur’an tidak menggunakan kata tha’ah (taat) untuk menggambarkan hubungan dalam rumah tangga. Lagi pula pernikahan di gambarkan sebagai sebuah hubungan cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah), bukan hubungan antara atasan dan bawahannya.
2. Surga istri mengikuti kemauan suami.
Untuk menetapkan penetapan yang mengharuskan istri tundu pada suaminya., CRLO dan para ahli hukum yang sepakat denagn pendapat mereka sering kali mengutip berbagai hadits yang keluar dari konteks ketaatan dan ketundukan pada suami. Hadits-hadits semacam itumenunjukkan bahwa derajat kesalehan seorang istri bergantung pada keridaan suaminya. Misalnya sebuat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban, dan al-Hakimmengklaim bahwa Umm Salamah, istri nabi meriwayatka bahwa nabi pernah bersabda, “seorang istri yang meninggal dan suaminya rida kepadanya, maka ia akan masuk surga.”
Tingkat utentisitas hadits tesebut sejajar denagn autentisitas hadits tentang bersujut kepada suami. Para komentator dalam sumber klasik yang terkenal, Ritadh al Shalihin,mengatakan bahwa maksudnya adalah selamaistri tersebut shaleh dan suaminya rida kepadanya maka ia akan masuk surga. 45Hal ini tentu saja merupakan kesimpulan yang implikasi bunyi teks (mafhum al-nashsh, mitsaq al-nashsh, atau madhmun al-nashsh). Teks literalnya tidak menyebutkan perempuan saleh, tapi hanya menyebutkan perempuan yang meninggal dan dan suaminya rida kepadanya, maka perempuan itu akan masuk surga.
Hal ini mengundang persoalan karena pemahaman emacanm itumenggantungkan keridaan Tuhan kepada keridaan suami. Namun sekalipun jika kita mengatakan bahwa hadits itu hanya berlaku bagi istri yang saleh, hal tersebut tetap mwngundang peroalan karena eridan Tuhan masih dikaitkan denagn keridaan suami, tidak peduli apakah ia saleh ataukah tidak , tapi tetap saja keridaan suaminya yang menjadi patokan. Jidi kita dipaksa untuk mengikuti konsekuensinya lebih lanjut: Hadits tersebut hanya berlaku jika seorang suami dan istri adalah orang-orang saleh. Namun pernyataan seperti itu masih tetapproblematis karena bagaimana seandaenya si istri lebih saleh daripada suaminya? Bagaimana jika sang suami berwatak pelit, atau berkelakuan buruk, atau pemarah, atau kasar, atau pengecut, atau bodoh atau pemalas ?Tanpa memperrtimbangkan segala kemingkinan bahwa si suami itu memiliki sifat tersebut, keridaan Tuhan bergantung pada keridan suami. Semua itu adalah konsep revolusioner yang memiliki dampat teologis dan social yang sangat dalam. Sebelum kita mengakui bahwa hadits tersebut meletakkan prinsip teologi yang mendsar, hadits tersebut harus memenuhi standar autentisitas tertinggi. Kenyataannya tidak demikian.
3. Terciptanya wanita dari tulang rusuk yang bengkok menunjukkan kelemahan derajat wanita.
Riwayat Ibn Umar ini selaras denagn berbagai haditd yang menuturkan resistensi yang luas, terutama dari kaum laki-laki Mekah, terhadapkehadiran perempuan yang ruang public, yang memaksa nabi untuk secara eksplisit menyuruh kaum laki-laki untuk tidah menghalangi perempuan slah di masjid. Namun mekipun ada perintah yang jelas mereka hanya memperbolehkan perempuan salat dimasjid di siang hari, tidak di malam hari, hingga akhirnya nabi menyebutkan secara khusus bahwa perintah nabi itu berlaku juga untuk di malam hari.
Hingga titik ini ada baiknya jika mencatat bahwa salah satu Riwayat yang beredar bahkan mengklain bahwa masa menstruasi adalah bentuk hukuman Tuhan atas peran public yang dimainkan perempuan. Menurut riwayat terebuut, kaum perempuan Israel bersikeras hadir di kuil untuk beribadah. Tapi mereka berperilaku buruk fdenagn menebar pesona kewanitaanya terhadap kaum laki-laki. Akibatnya, tuhan melarang kaum perempuan Yahudi beribadah ke kuil dan menimpakan hukuman berupa siklus menstruasi atas semua perempuan, mungkin untuk menjauhkan perempuan dari tempat ibadah selama waktu tertentu setiap buklannya.
Tentu saja saya tidak mengisyaratkan bahwa mayoritas bahkan sejumlah besar, ahli hukum klasik menerima kesahihan riwayat tersebut. Meskipun demikian gejala ini menunjukkan konteks sosio histories yang menorehkan jejaknya pada sumber-sumber utama ynag harus dikaji oleh para ahli hukum Islam. Diantara jeda ketelitian yang didorong oleh penetapan CRLO adalah hadits-hadits tentang perempuan dan batalnya shalat, pembawa sial dan perceraian.
Para ahli hukum CRLO yang dimintai fatwa tentang konsekuensi hukum dari seorang perempuan yang lewat di depan seorang laki-laki yang sedang salat tanpa tabir yang memisahkan keduanya menjawab bahwa salat laki-laki tersebuut tidak sah dan harus diulang. Untuk mendukung penetapannya, CRLO mengutip senuah riwayat dari Abu Hurairah yang dikatakan sebagai sabda nabi bahwa “Lewatnya seorang perempuan, keledai, dan anjing di depan seorang laki-laki akan membatalkan shalatnya.”
Dalam fatwa lainnya Ibn Baz menegaskan bahwa kaum perempuan di pandag sebagai pembawa sial sehingga menceraikannya diperbolehkan. Untuk mendukung penetapan tersebut, mengutip sebuah hadits nabi yang menyatakan “Jika pembawa sial memang ada, ia bisa dating dari rumah, perempuan atau kuda.” Hadits-hadits dan penetapan tersebut tidak perlu dikomentari, jelas sekali bahwa hadits dan penetapan tersebut mengkaitkan perempuan dengan binatang.
Pada kenyataanya hadits-hadits lain yang dikutib dalam konteks perintah berjilbab atau larangan pembauran laki-laki dan perempuann mengingatkan perempuan denahn setan. Hadits lainnya menyebutkan bila seorang laki-laki terpesona oleh seorang perempuan,ia harus memuaskan gairahnya dengan istrinya.
Pada hadits jenis pertama Abu Hurayrah meriwayatkan bahwa nabi pernah bersabda “Jagalah istrimu dengan baik karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok,dan bagian paling bengkok dari tulang rusuk manusia adalah yang paling atas. Jika kamu mencoba meluruskannya, tulang itu akan patah dan jika kamu membiarkan, tulang itu akan tetap bengkok. Jadi jagalah istrimu dengan baik. “ dalam versi lainnya yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurayrah, nabi dilaporkan pernah bersanbda seorang perempuan sepeti tulang rusuk jika kamu berusaha meluruskannya, ia akan patah. Jika kamu membiarkannya seperti apa adanya, kamu akan senang (hidup) bersamanya, tetapi ia tetapbengkok. CRLO juga menggunakan hadits ini untuk menetapkan bahwa perempuan harus membutuhkan pengertian dan kasih sayang, ketika terjadi persoalan dalam rumah tangga, seorang suami jangan terburu-buru jangan mdncerai istrinya.

F. Ruang Lingkup dan Istilah Kunci Penelitian
Dalam buku ini Khaled lebih menekankan kajian pada kritik atas fiqh Islam. Penguasaannya yang luas atas khazanah klasik fiqh Islam memungkinkannya mengkritik kesalahan cara ijtihad sekelompok umat Islam. Misalnya, kelompok-kelompok yang “main comot” hadis atau ayat suci tanpa memahami konteks, makna maghza, dan signifikansi moralnya. Ayat suci dan hadis mereka jadikan jadi proyek hukum positif tanpa menyadari bahwa kedua sumber otoritatif tersebut adalah sumber moral. Sebagai sumber moral, Al-Quran dan sunnah akan memberikan pencerahan kepada para pembacanyadalam kehidupan mereka.
Istilah kuncinya adalah otoritas (wewenang) dan keberwenangan (otoritarianisme). Otoritas menurut Khaled Abou El Fadl, dibedakan menjadi dua, yaitu otoritas yang bersifat koersif dan persuasive. Otoritas koersif adalah kemampuan untuk mengarahkan perilaku orang lain dengan cara membujuk, mengambil keuntungan, mengancam, atau menghukum, sehingga orang yang berakal sehat, akan berkesimpulan bahwa untuk tujuan praktis mereka tidak punya pilihan kecuali dengan menurutinya.
Otoritas persuasive adalah otoritas yang melibatkan kepercayaan yang bersifat normatif. Ia merupakan kemampuan untuk mengarahkan keyakinan atau perilaku seseorang berdasarkan keyakinan. Otoritarianisme menurut Khaled Abou El Fadl adalah, sebuah metode hermeneutika yang merampas dan menundukkan mekanisme pencarian makna dari sebuah teka kedalam pembacaan yang sangat subyektif dan selektif.
Lebih dari itu, Khaled juga mendefinisikan otoritarianisme sebagai sebuah perilaku yang sama sekali tidak berpegang pada prasyarat pengendalian diri dan melibatkan klaim palsu yang dampaknya adalah penyalahgunaan kehendak Tuhan. Otoritarianisme merupakan pengabaian terhadap realiatas ontologism Tuhan dan pengambil alihan Kehendak Tuhan oleh wakil Tuhan sehingga wakil tersebut secara efektif kemudian mengacu pada dirinya sendiri.
Kajian Abou El Fadl ruang lingkupnya adalah kajian hukum Islam, yang diterangkan secara reoritis dengan mengadopsi sebagian pemikiran Gadamer. Maka kata kunci yang digunakan adalah berasal dari teori mereka berdua, yaitu hermaneutik, hukum Islam, interpretasi (penafsiran), application (penerapan), understanding (pemahaman).

G. Kontribusi Terhadap Ilmu Pengetahuan
Ada beberapa sumbangan pada kajian Abou El Fadl terhadap khazanah keilmuan maupun akademik, diantaranya :
1. Memberikan pengetahuan yang sangat mendalam tentang bagaimana memahami teks Al Quran sebagai kitab suci yang “tidak anti kritik” serta bagaimana pembaca memposisikan diri sebagai orang yang mewakili suara Tuhan.
2. Metode yang digagas beliau memberikan sumbangan metode dalam ramah keilmuan dengan menawarkan metode hermeneutik untuk memahami kitab suci (al Quran) serta bisa menjadi alat analisis bagi sarjana yang mendalami studi Islam.
3. Karya Abou El Fadl juga menambah wacana diskursus bagi pusat-pusat studi wanita di beberapa perguruan tinggi, lembaga-lembaga studi wanita dan lembaga swadaya masyarakat yang selalu mengusung tema perjuangan kesetaraan gender.
Menurut M. Amin Abdullah, dalam kata pengantarnya, kajian ini Khaled ingin mengembalikan ilmu yurisprudensi Islam sebagai sebuah epsitimologi dan sekaligus sebagai metode penelitian (a methodology of inquiry), bukan sebagai diskursus keilmuan keIslaman yang beraroma politis dan otoriter. Dia ingin menghidupkan kembali dan mengembangkan lebih lanjut diskursus klasik tentang peran ‘aql (intellect), fithrah (intuition), atau husn dan qubh ( the moral and immoral) yang dicetuskan oleh ulama-ulama klasik dan dikembangkan lebih lanjut lewat pendekatan-pendekatan baru yang muncul belakangan.

H. Logika dan Sistematika Pembahasan
Abou El Fadl mengawali tulisannya dengan memaparkan problem-problem akademik yang dihadapinya. Selanjutnya mengembangkan sebuah pendekatan yang komprehensif tentang persoalan otoritas dalam hukum Islam. Untuk menghindari kekuasaan (otoritas) pengarang dalam hal ini otoritas ketuhanan untuk membenarkan tindakan sewenang-wenang yang absolute (despotism) yang dilakukan pembaca terhadap teks-teks atau nas-nas keagamaan,
Abou El Fadl menawarkan usulan untuk menjunjung otoritas teks dan membatasi otoritarianisme pembaca. Abou El Fadl, berulang kali menjelaskan bahwa penggantian kekuasaan atau otoritas Tuhan oleh pembaca merupakan tindakan despostisme dan sekaligus merupakan bentuk penyelewengan nyata dari logika hukum Islam yang tidak dapat dibenarkan begitu saja, tanpa kritik yang tajam dari masyarakat penafsir yang ada disekitarnya. Abou El Fadl menawarkan metodologi hermeneutik sebagai upaya untuk membangun relasi antara pengarang, teks dan pembaca
Kemudian ia membangun dasar-dasar untuk melakukan analisis kritis tentang penyalahgunaan praktik hukum di dunia Islam modern. Lalu ia menyajikan studi kasus seputar proses terbentuknya otoritarianisme dalam praktik hukum Islam di dunia modern. Kebanyakan studi kasus itu berfokus pada fatwa (reponsa) tentang persoalan perempuan.

I. Kesimpulan
Pendekatan hermeneutik yang digunakan oleh Khaled Abou Al Fadl adalah dengan mengklaim bahwa pemahaman yang relevan dan yang paling benar hanyalah “keinginan pengarang” (the will of author), maka dengan mudah para pembaca (reader) menggantikan posisi pengarang (author) dan menempatkan dirinya atau lembaganya sebagai satu-satunya pemilik absolute sumber otoritas kebenaran. Disina lalu terjadi proses perubahan secara instant yang sangat cepat dan mencolok, yaitu metamorfosis atau menyatunya “pembaca” (the reader) dan “pengarang” (author), dalam arti bahwa tanpa peduli dengan keterbatasan-keterbatasan yang melekat dalam diri dan institusinya menjadi Tuhan (author) yang tidak terbatas.
Kajian Abou El Fadl adalah kajian hukum Islam, yang diterangkan secara teoritis dengan mengadopsi sebagian pemikiran Gadamer. Kajian hukum Islam oleh Khaled lewat perspektif hermeneutik tergolong baru, tidak saja untuk pembaca Indonesia, tetapi juga untuk dunia Islam pada umumnya. Kajian Abou El Fadl terhadap khazanah keilmuan maupun akademik mampu memberikan pengetahuan yang sangat mendalam tentang bagaimana memahami teks Al Quran sebagai kitab suci yang “tidak anti kritik juga memberikan sumbangan metode dalam ramah keilmuan dengan menawarkan metode hermeneutik untuk memahami kitab suci (al Quran) serta bisa menjadi alat analisis bagi sarjana yang mendalami studi Islam

Bagikan Artikel ini ke Facebook