E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Metode Penelitian Gender Telaah atas Buku Inside the Gender Jihad: Women’s Reform In Islam Karya Amina Wadud

Dibaca: 295 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: Sumanto, MSI. lihat profil
pada tanggal: 2018-04-26 05:41:03 wib


Metode Penelitian Gender
Telaah atas Buku Inside the Gender Jihad:
Women’s Reform In Islam
Karya Amina Wadud

Oleh : SUMANTO


A. Pendahuluan
Sebagai agama yang membenarkan dan melengkapi ajaran-ajaran sebelumnya, Islam datang sebagai “rahmatan lil `alamin”,(rahmat untuk sekalian alam). Salah satu ajarannya yang sangat bernilai adalah keadilan antara sesama umat manusia. Tidak sedikit ayat-ayat di dalam al-Qur`an yang menyebutkan bahwa umat manusia, laki-laki ataupun wanita, siapapun di antara mereka yang beriman dan beramal shaleh, maka akan mendapatkan ganjaran yang sama dari Allah swt.
Ajaran Islam mengenai keadilan antara laki-laki dan wanita, menimbulkan kegelisahan di diri Amina Wadud ketika melihat keterpurukan wanita Islam di segala bidang. Ia mulai mencari penyebab dari keterpurukan tersebut dengan melihat kepada sumber ajaran Islam terkait dengan wanita. Ia dapati, bahwa mayoritas penafsiran dan hasil hukum Islam ditulis oleh ulama pria dan seringkali membawa bias pada pandangan mereka. Menurutnya, budaya patriarki telah memarginalkan kaum wanita, menafikan wanita sebagai khalifah fil ardh, serta menyangkal ajaran keadilan yang diusung oleh al-Qur`an.
Siapakah Amina Wadud ? Amina Wadud adalah seorang feminis wanita dan cendikiawan yang penuh dengan kontroversi. Nama feminis ini telah begitu akrab di telinga para pengkaji Islam, bahkan bagi masyarakat awam. Kegalauan pemikiran Amina Wadud timbul karena menyaksikan fenomena marjinalisasi terhadap perempuan dalam kehidupan sosial dan kesetaraan martabat antara laki-laki dan perempuan. Timbulnya budaya patriarki dalam struktur sosial masyarakat, sangat mempengaruhi penafsiran dari ayat-ayat al-Quran khususnya tentang perempuan. Kegalauan Amina tidak berhenti hanya dalam penafsiran saja, tetapi juga dalam prakteknya, pengalamannya dalam studi di Barat (Amerika Serikat). Amina merasa tertantang dalam penelitian dan mengajar di Amerika Serikat. Amina Wadud menelaah kajian gender untuk pemahaman yang komprehensif dari ayat-ayat al-Quran tentang perempuan, menetralisir kesubjektifisan penafsir dan sekaligus kewaspadaan penafsiran, siapa yang menafsirkan dan bagaimana penafsirannya.
Terinspirasi dari metode hermeneutik dan penafsiran tematik Fazlur Rahman, analisis historis dari Fatimah Mernissi, kajian fonomenologi Laila Ahmad, Martin Buber, Abou El Fadl, dan beberapa pemikir lainnya, Amina Wadud dalam Inside the Gender Jihad ini menyajikan analisis filologi, hermeneutik, dan beberapa pemetakan pemikiran tafsir disertai dengan kontekstualisasi ayat. Amina wadud dalam kajiannya dengan mengungkapkan masalah ketimpangan pemaknaan atau penafsiran ayat-ayat perempuan dengan produk fiqh. Dilanjutkan dengan penjelasan fenomena relasi fungsional laki-laki dan perempuan dengan budaya patriarki yang berpengaruh pada penafsiran.

B. Biografi Amina Wadud
Meskipun pemikirannya banyak dimuat di beberapa media, lebih-lebih semenjak terjadinya Jum`at bersejarah, dimana ia bertindak sebagai imam sekaligus khatib shalat jum’at di ruangan Synod House di Gereja Katedral Saint John The Divine di kawasan Manhattan, New York, Amerika Serikat, 18 Maret 2005 lalu, namun tidak banyak diketahui secara rinci mengenai riwayat hidup tokoh ini. Dari beberapa literatur dan situs, penulis menemukan bahwa ia dilahirkan pada tahun 1952, di Amerika. Nama orang tuanya tidak diketahui, namun ia adalah seorang anak pendeta yang taat. Ia mengakui bahwa ia tidak begitu dekat dengan ayahnya dan ayahnya tidak banyak mempengaruhi pandangannya. Hidayah dan ketertarikannya terhadap Islam, khususnya dalam masalah konsep keadilan dalam Islam, mengantarkannya untuk mengucapkan dua kalimah syahadah pada hari yang ia namakan Thanks giving day, tahun 1972.
Belum diketahui jenjang pendidikan yang ia lalui hingga mengantarkannya menjadi seorang profesor studi Islam di Departemen Studi Islam dan Filsafat Universitas Common wealth di Richmond, Virginia. Namun dalam beberapa literatur, ia merupakan seorang yang aktif di berbagai organisasi perempuan di Amerika, berbagai diskusi tentang perempuan, serta gigih menyuarakan keadilan Islam terhadap laki-laki dan perempuan di berbagai diskusi ilmiah pada beberapa daerah maupun Negara. Ia mendirikan organisasi Sister Islam di Malaysia. Dalam bukunya, Inside The Gender Jihad, ia menulis bahwa ia telah menjadi the single parent lebih dari 30 tahun bagi empat orang anaknya. Hal ini, menurutnya, merupakan awal jihadnya dalam memperjuangkan hak-hak keadilan bagi para wanita Islam.

C. Kegelisahan Akademik
Kegelisahan Amina Wadud timbul karena menyaksikan gejala-gejala sebagai berikut :
1. Fenomena termarjinalisasikannya perempuan dalam kehidupan masyarakat.
2. Interpretasi tentang perempuan di dalam al-Quran yang ditafsirkan oleh para pria (mufassir) beserta pengalaman dan latar belakang sosial mereka yang dinilai telah menyudutkan perempuan dalam perannya ditengah publik dan dirasa tidak ada keadilan paradigma.
3. Model penafsiran dari para mufassir, selanjutnya kepada produk fiqh, term-term dan perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan. Banyak ayat-ayat yang ditafsirkan tidak mengandung prinsip Universalitas Islam. Oleh karena itu perhatian Amina Wadud sangat tinggi dalam hal terminologi atau pendefinisian suatu obyek.
4. Tantangan dalam belajar dan mengajar dalam kajian wanita muslim. Kegelisahan Amina Wadud tercermin dengan pengalamannya meneliti dan mengajar di Akademi Amerika Serikat. Daerah Amerika Utara adalah tempat terbesar dalam kajian gender, termasuk wanita dan agama.

D. Pentingnya Topik Penelitian
Topik penelitian ini penting untuk menjelaskan tentang pemahaman fenomena gender yang terkait dengan perlakuan dan peran perempuan di tengah masyarakat dalam segala aspek kehidupannya. Amina Wadud mengusahakan terobosan untuk memecah ketidakadilan penafsiran tentang perempuan. Upaya ini penting untuk menghilangkan ketimpangan relasi gender laki-laki dengan perempuan dikalangan umat Islam. Ketimpangan inilah yang menurut Amina membelenggu potensi yang luar biasa yang dimiliki oleh perempuan. Namun penelitian ini menjadi unik karena Amina Wadud sendiri merasa punya keterbatasan pengetahuan tafsir al-Quran yang menyangkut perempuan.
Pemikiran Amina Wadud yang dituangkan dalam Inside the Gender Jihad memberikan nuansa pemikiran yang berbeda tentang wanita yang termarginalkan, mendobrak budaya patriarki yang membelenggu. Pemikiran-pemikirannya yang cemerlang walaupun terkadang agak unik namun menjadi inspirasi dalam kajian-kajian keislaman khususnya masalah-masalah gender yang akhirnya berpengaruh pada seluruh lapisan kebijakan pemerintah

E. Hasil Penelitian Terdahulu
Di dalam bukunya ini Amina menelaah penelitian-penelitian terdahulu, diantaranya: karya-karya Fazlur Rahman, Fatimah Mernissi, Laila Ahmad, Kaled Abu El-Fadl dan beberapa tokoh lainnya untuk memperkuat metodologi dalam menganalisis problem ini.
Fazlur Rahman telah banyak memberikan pengaruh kepada pemikiran Amina Wadud dalam penafsiran, terutama metode penafsiran holistik yang menekankan telaah aspek normatif ajaran Islam. Teori holistik menawarkan metode pemahaman al-Quran yang menyatu (koheren) disebut sebagai metode hermeneutik (hermeneutic theory).
Kholed Abou El-Fadl, menawarkan konsep outoritas penafsiran (fatwa). Dia berpendapat bahwasanya tidak ada yang berhak mengklaim bahwa interpretasinya itu adalah yang paling benar dan paten, tidak bisa dirubah karena merasa ini dari Tuhan. Outoritas yang paling benar adalah dari Allah, bukan dari para ulama’ (penafsir) yang seolah-olah itulah dari Tuhan dan itulah Islam.
Fatimah Mernissi, yang telah menawarkan pengkajian tentang ayat-ayat al-Quran yang lebih difokuskan kepada aspek kultur dan historis, dari sinilah dianalisis bagaimana konteks ayat tersebut turun dan kondisi saat itu. Kultur masyarakat pada suatu daerah yang selanjutnya akan berbeda penafsirannya dari daerah yang satu dengan daerah yang lain.
Laela Ahmad, menyajikan hal yang hampir sama dengan Fatimah Mernissi, fokus penelitian Laila Ahmad pada fenomena kelompok pemahaman muslim, selanjutnya tertarik dengan fenomena ritual dan kultur masyarakat yang berpengaruh kepada peran perempuan. Ada perbedaan nalar pemahaman keberagamaan dari masing-masing daerah kerena latar belakang budayanya, misalnya Islam di Timur Tengah dengan Islam di Barat sangat berbeda penerapannya, hal ini dikarenakan adanya interaksi Islam dengan budaya lokal.

F. Metode Penelitian
Metode pendekatan yang digunakan oleh Amina Wadud adalah metode pendekatan “linguistik-hermeneutik”, dengan “analisis filologi atau conten analisis secara holistic”. Lebih lengkapnya Amina Wadud menggunakan teori “double movement” dan pendekatan “tematik” dari Fazlur Rahman untuk menjelaskan ayat-ayat tentang wanita. Selain menggunakan hermeneutik Amina Wadud juga menggunakan metode “tafsir al-Quran bil al-Quran” untuk menganalisis semua ayat-ayat yang memberikan petunjuk khusus bagi perempuan, baik yang disebut bersamaan dengan laki-laki atau terpisah.
Berikut ini akan diuraikan beberapa hal terkait dengan ayat-ayat tentang keadilan jender dalam al-Qur`an serta sejumlah kontroversi hak dan peran wanita yang kerapkali ditafsirkan sebagai bentuk superioritas pria atas wanita.
1. Penciptaan manusia
Meskipun terdapat perbedaan antara perlakuan terhadap pria dan perlakuan terhadap wanita ketika al-Qur`an membahas penciptaan manusia, Amina berpendapat tidak ada perbedaan nilai esensial yang disandang oleh pria dan wanita. Oleh sebab itu tidak ada indikasi bahwa wanita memiliki lebih sedikit atau lebih banyak keterbatasan dibanding pria.
Semua catatan al-Qur`an mengenai penciptaan manusia dimulai dengan asal-usul ibu-bapak pertama :
   •      • 
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu-bapakmu dari surga..”(QS, Al-A`rof:27). Amina menjelaskan bahwa kita menganggap ibu-bapak kita yang pertama serupa dengan kita. Meskipun anggapan ini benar, tetapi tujuan utama bab ini lebih menekankan pada satu hal: proses penciptaan mereka. Semua manusia setelah penciptaan kedua makhluk ini, diciptakan di dalam rahim ibunya.
2. Persamaan Ganjaran di Akhirat
Laki-laki dan wanita adalah dua kategori spesies manusia yang dianggap sama atau sederajat dan dianugerahi potensi yang sama atau setara. Tak satupun terlupakan dalam al-Qur`an sebagai kitab petunjuk bagi umat manusia yang mengakui dan mempercayai kebenaran yang pasti. Al-Qur`an menghimbau semua orang beriman, laki-laki dan perempuan untuk membarengi keimanan mereka dengan tindakan, yang
dengan begitu mereka akan diganjar dengan pahala yang besar. Jadi, Al-Qur`an tidak membedakan pahala yang dijanjikannya.
Dalam Al-Qur`an, menjelaskan QS, Al-Mukmin : 40,
           •  
Artinya : dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga.
Amina menekankan kata man dan ulaika. Kedua kata tersebut mengandung pengertian netral, tidak laki-laki dan tidak pula khusus perempuan. Sehingga masing-masing manusia akan memperoleh ganjaran bukan berdasarkan jenis kelamin, melainkan atas tindakan yang dilakukan oleh setiap individu (lihat juga QS, 6:94).
3. Darajat dan fadhdhala
Amina mengutip sebuah ayat yang membedakan derajat antara pria dan wanita, yang artinya:
”Wanita-wanita yang ditalak, hendaknya menahan diri (menunggu) tika kali quru`. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang dijadikan Allah dalam rahimnya. Dan suami-suaminya berhak rujuk padanya dalam masa iddah tersebut, jika mereka (para suami tersebut) menghendaki ishlah. Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, memiliki satu tingkat (derajat) kelebihan daripada istrinya. Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (QS, Al-Baqoroh : 228).
Ayat ini menunjukkan bahwa derajat yang dimaksud di atas adalah hak menyatakan cerai kepada istri. Sebenarnya wanita bisa saja minta cerai, tetapi hal ini dikabulkan setelah adanya campur tangan pihak yang berwenang (misalnya hakim). Amina berpendapat, bahwa beranggapan bahwa makna derajat dalam ayat ini sama dengan kebolehan kesewenang-wenangan laki-laki terhadap wanita, akan bertentangan dengan nilai kesamaan (keadilan) yang diperkenalkan dalam al-Qur`an sendiri untuk setiap individu, bahwa setiap nafs akan memperoleh ganjaran sesuai dengan apa yang dia upayakan. Adapun, kata ma’ruf diletakkan mendahului kata darajah untuk menujukkan bahwa hal tersebut dilakukan terlebih dahulu. Dengan demikian, hak dan tanggung jawab wanita dan pria adalah sama.
                                       •     
Artinya : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Selanjutnya, Amina juga concern dalam menafsirkan kata Qawwam dan fadhdhala yang terdapat dalam QS, 4:34. Menurutnya, dua kata tersebut erat kaitannya dengan kata penghubung bi. Di dalam sebuah kalimat, maknanya adalah karakteristik atau isi sebelum kata bi adalah ditentukan berdasarkan apa-apa yang diuraikan setelah kata bi. Dalam ayat tersebut, pria-pria qawwamuuna ‘ala (pemimpin-pemimpin bagi) wanita-wanita hanya jika disertai dua keadaan yang diuraikan berikutnya. Keadaan pertama adalah mempunyai atau sanggup membuktikan kelebihannya, sedang persyaratan kedua adalah jika mereka mendukung kaum wanita dengan menggunakan harta mereka. Jika kedua kondisi ini tidak dipenuhi, maka pria bukanlah pemimpin bagi wanita.
Dalam tulisan lain, Amina menjelaskan bahwa kata bi di atas sekaitan dengan ma fadhdhlallah (apa yang telah Allah lebihkan untuk laki-laki, yakni warisan), dan nafkah yang dia berikan kepada istrinya. Meski menurutnya, kelebihan warisan antara laki-laki dan perempuan masih debatable. Dimana bagian warisan absolute pria tidak selalu berbanding dua dengan wanita. Jumlah sesungguhnya sangat tergantung pada kekayaan milik keluarga yang akan diwariskan.
Lebih jauh, Amina menjelaskan bahwa nafkah sebagai seorang pemimpin hendaknya diterapkan dalam kaitannya hubungan kedua belah pihak dalam masyarakat secara keseluruhan. Salah satu pertimbangannya adalah tanggung jawab dan hak wanita untuk melahirkan anak. Tanggung jawab melahirkan seorang anak merupakan tugas yang sangat penting. Eksistensi manusia tergantung pada hal tersebut. Tanggung jawab ini mensyaratkan sejumlah hal, seperti kekuatan fisik, stamina, kecerdasan, dan komitmen personal yang dalam. Sementara tanggung jawab ini begitu jelas dan penting, apa tanggung jawab seorang pria dalam keluarga itu dan masyarakat luas?. Untuk menciptakan keseimbangan dan keadilan, dan untuk menghindari penindasan, Al-Qur`an menyebut tanggung jawabnya sebagai qiwamah. Amina menambahkan bahwa wanita tidak perlu dibebani dengan tanggung jawab tambahan yang akan membahayakan tuntutan penting tanggung jawab yang hanya dia sendiri yang bisa mengembannya.

4. Perceraian
Perceraian merupakan pilihan hukum antara pasangan yang telah menikah, setelah mereka tidak bisa menyatukan perbedaan yang timbul antara keduanya. Tetapi keadaan yang telah dibahas tadi, yang mengizinkan pria memiliki darajah (kelebihan) atas wanita, telah dianggap sebagai indikasi adanya ketaksejajaran dalam al-Qur`an yaitu pria memiliki hak talak. Tidak seperti wanita, kaum pria bisa saja berkata ‘saya ceraikan kamu ‘ untuk memulai tata cara perceraian.
Al-Qur`an memang tidak tidak menyebutkan adanya wanita-wanita yang meminta talak dari suaminya, sehingga kenyataan ini digunakan untuk mengambil kesimpulan bahwa wanita tidak memiliki hak talak. Kesimpulan terakhir sangat bertolak belakang dengan adat istiadat zaman pra-Islam dimana wanita dapat dengan mudahnya memalingkan wajahnya untuk menunjukkan penolakannya atas hubungan perkawinan dengan seorang pria. Tidak ada satu petunjukpun dalam al-Qur`an yang mengisyaratkan bahwa seluruh kewenangan talak ini harus direnggut dari kaum wanita. Yang lebih penting lagi menurutnya, hendaknya persoalan rujuk atau cerai dilakukan dengan cara ma’ruf dan menguntungkan kedua belah pihak.
Demikianlah beberapa konsep keadilan jender dalam al-Qur`an menurut Amina Wadud. Sebuah usaha untuk menyampaikan tujuan ajaran al-Qur`an mengenai keadilan bagi seluruh umat Islam. Beberapa persoalan lain yang ia gagas tampak lebih fleksibel dan dekat dengan konsep keadilan yang diusung ajaran Islam, seperti masalah perawatan anak, dimana ia menekankan bahwa hal tersebut bukan hanya merupakan kewajiban istri saja, tapi merupakan kewajiban suami dan istri sebagaimana tersurat dalam QS, Al-Baqoroh:233. Apalagi apabila di dalam sebuah rumah tangga bukan hanya suami yang bekerja, tapi istri juga dituntut memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini menurut penulis, sangat baik untuk diterapkan sehingga kedua belah pihak dapat terjalin kemitraan dan kebersamaan tanpa ada salah satunya yang tertindas.
Keadilan jender guna mencapai keselamatan seluruh umat manusia memang harus diperjuangkan, sebagai agama yang “rahmatan lil’alamin”. Namun, penulis berpendapat bahwa hal tersebut harusnya tetap berada pada koridor kesadaran akan keberbedaan fisik dan psikologi antara kedua spesies, wanita dan pria. Disitulah letak kebijaksanaan Islam sehingga keduanya dapat saling melengkapi dan berdampingan. Allah SWT Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-hambaNya.

G. Ruang Lingkup Penelitian dan Istilah Kunci
Ruang lingkup penelitian yang dilakukan oleh Amina Wadud adalah berkaitan dengan interpretasi dikalangan umat Islam (khususnya) memandang relasi atau kedudukan perempuan dan laki-laki. Ia menjawab problem yang berkaitan tentang perempuan dengan bersumber pada al-Quran dengan menawarkan cara atau metode dan pendekatan dalam memahami teks (al-Quran). Fokus perhatian Amina Wadud adalah otoritas penafsiran pada prinsip feminisme, keadilan gender, ayat-ayat tentang keadilan sosial dan kesederajatan manusia dan beberapa faktor yang menyebabkan termarjinalisasikannya perempuan. Kata kunci yang dapat digunakan yakni, tauhid, khilafah, taqwa, hijab, jihad.

H. Kontribusi dalam Ilmu-ilmu Keislaman
Kita dapat memahami secara komprehensif tentang keadilan sosial dan kesetaraan derajat antara laki-laki dan wanita yang sering kali kita memaknainya secara salah, prinsip-prinsip dasar Islam, terutama pandangan miring tentang perempuan. Dan juga sebagai motivator terhadap peran perempuan dalam kehidupan publiks.

I. Sistematika Penulisan
Dalam buku ini Amina Wadud mengawalinya dengan membandingkan pemikiran Islam dengan Barat yang sekuler, dilanjutkan dengan pembahasan materi yang menunjuk Al-Quran sebagai tokoh sentral pemegang otoritas hukum yang ditafsirkan secara patriarki oleh kaum laki-laki. Untuk itu diharapkan para pengajar di lembaga pendidikan memikirkan ulang terhadap hubungan pendidikan Islam dan kebangkitan Islam, pergerakan, dengan kontrol teori gender, memasukkan sejarah wanita muslim yang dikonsentrasikan untuk pengembangan Studi Islam selanjutnya. Sebagai sarana hal tersebut maka dibentuk jaringan organisasi wanita yang didukung pemerintah. Wadud mengambil sampel Hajar sebagai figur jihad gender, opini publik terhadap kepemimpinan perempuan, bagaimana menginterpretasi ayat al-Quran yang bias gender dan ditutup dengan berbicara tentang hijab dan jihad perempuan.

J. Penutup
Harus diakui bahwa semangat menangkap ide-ide Amina Wadud semarak dilakukan. Demikian pula metode hermenetik yang ditawarkan dengan berrcermin pada historisitas pemaknaan ayat sangat baik diterapkan dalam rangka mengembangkan wacana berwawasan gender.
Poin penting yang dapat diambil dari pemikiran Wadud adalah adanya upaya untuk membongkar pemikiran lama dan mitos-mitos lama yang disebabkan oleh penafsiran bias patriarki. Upaya itu dimulai dengan jihad menguak keadilan gender dari sumber dasar dan spirit al-Qur’an.
















DAFTAR PUSTAKA

Putnam Tong, Rosemarie, Feminist Thought: Pengantar Paling Komperehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Yogyakarta: Jalasutra, 1998.

http://mesw.wordpress.com/2007/12/31/peran-wanita-menurut-amina-wadud/

Verdiansyah, Very, Islam Emansipatoris: Menafsir Agama untuk Praksis Pembebasan, Jakarta: P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), 2004

Wadud, Amina, Inside The Gender Jihad: Women’s Reform in Islam, England: Oxford, 2006.

-------------------, Women and Qur’an, Kuala Lumpur: Fajar Bakti SDN. BHD, 1993.

Bagikan Artikel ini ke Facebook