E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

DILEMA SUKSES UNAS DAN TIM SUKSES

Dibaca: 140 kali, Dalam kategori: Pendidikan, Diposting oleh: Sumanto, MSI. lihat profil
pada tanggal: 2018-04-26 05:42:20 wib


A. Judul : “DILEMA SUKSES UNAS DAN TIM SUKSES”

B. Pendahuluan
Tiga kali ujian nasional pada 2007 memberi kejutan. : Pertama, ketika angka kelulusan melonjak luar biasa. Pada tingkat sekolah menengah atas, dari 80,76 % naik menjadi 92,50 persen, dan madrasah aliyah, dari 80,73 % menjadi 90,82 %. Adapun untuk sekolah menengah kejuruan, dari 78,29 persen menjadi 91,00 %. Kedua, pengakuan guru dan murid dari berbagai daerah bahwa mereka telah melakukan dan menyaksikan kecurangan dalam penyelenggaraan ujian nasional.
Pemerintah punya strategi dalam memberikan keberhasilan pendidikan di tingkat nasional, yaitu dengan cara UNAS. Terlepas siswa hidup di kota atau desa, desa atau pelosok, pandai atau bodoh, mampu atau kaya, faforid atau biasa, internasional atau nasional, nasional atau regional, regional atau lokal, yang penting proyek UNAS harus terus jalan, kalau perlu harus ada rekanan kerja yang melibatkan unsur LSM, kepolisian, komite dan lain-lain. Semakin banyak orang yang terlibat, anggaran semakin banyak dan proyek terus meningkat.
UNAS yang sukses memberikan kekhawatiran bagi pendidik yang sudah lama berontak terhadap kebijakan UNAS di sekolah-sekolah. Jika pemerintah hanya ingin kelulusan dan hasil sebagai standar keberhasilan, maka sekolah juga harus menerapkan strategi keberhasilan bagi siswa-siswanya. Terlepas dari bisa atau tidak, bermutu atau biasa, pandai atau bodoh, yang penting siswa-siswa harus diselamatkan dari kebijakan yang tidak bijak. Melalui tim sukses UNAS Sekolah, siswa harus di format agar meluluskan yang tidak lulus, mencerdaskan yang tidak cerdas, meng-unggulkan yang tidak unggul agar ada keseimbangan antara sukses UNAS pemerintah dan sukses UNAS Sekolah menjadi kenyataan (yang pentingABS= asal bapak senang, bapak = pemerintah). Dalam situasi inilah berbagai trik dan strategi dilakukan sekolah, baik yang persiapan jangka panjang, menengah atau jangka pendek.
Akibatnya hasil ujian nasional yang gilang gemilang dan telanjur membuat bangga pemerintah ternyata didapat dari proses manipulatif. Karena itu, para guru yang mengetahui proses memperingatkan pemerintah agar tidak menjadikan tingginya persentase kelulusan sebagai indikator peningkatan mutu pendidikan nasional. Para guru bukannya tidak mengetahui risiko atas apa yang dilakukannya, tapi nurani mereka berontak. Selama lima kali pelaksanaan ujian nasional, harus diam dan terus membodohi diri sendiri hanya untuk memuaskan kepentingan atasan. Selain itu, ujian nasional telah merampas hak pedagogis dalam menentukan kelulusan. Mereka yang mengetahui seluk-beluk mengenai murid, tapi kemudian pemerintah yang memutuskan siapa yang berhak atau tidak berhak lulus. Intervensi tersebut jelas menggambarkan rendahnya kadar kepercayaan pemerintah terhadap guru, termasuk pelaksanaan pendidikannya.
C. Dilema UNAS dan Tim Sukses UNAS
1. Ujian Nasional “Masih Perlukah”
Undang-Undang Dasar tahun 1945 menyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan, dan pemerintah menyusun dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang diatur oleh negara. Kerja keras dalam upaya perubahan sistem politik dan struktur ekonomi, dan pergeseran otoritas pemerintahan dari bentuk sentralisasi ke bentuk desentralisasi, pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional telah melakukan usaha-usaha perbaikan dalam pencapaian pendidikan yang ada, termasuk dalam hal evaluasi, untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Pemerintah menetapkan kebijakan UNAS (pengganti Ebtanas) dengan kriteria kelulusan yang berbeda-beda setiap tahun. Bisa dibayangkan, betapa dag-dig-dugnya ribuan siswa-siswi seluruh Indonesia jika setiap tahun pemerintah menetapkan kebijakan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, pada tahun ajaran 2006/2007 silam, pemerintah menetapkan standar kelulusan 4,26 untuk 3 mata pelajaran pokok (Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris), jika tidak dapat mencapai batas minimal tersebut dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang setahun lagi di kelas 3 atau mengikuti ujian kesetaraan, akibatnya banyak siswa yang salah satu nilainya tidak mencapai 4,26 harus gagal lulus meskipun dua nilai yang lain diatas standar lulus. Saat itu Mendiknas yakin bahwa UNAS akan dapat dipertahankan dengan standar kelulusan yang akan dinaikkan setiap tahun.
Sayang sekali, jika UNAS hanya dijadikan eksperimen penentu kelulusan siswa-siswi SMA dan SMP jika tidak dibarengi dengan kesiapan para siswa dan guru sebagai fasilitator. Adanya kekhawatiran akan banyaknya siswa yang tidak lulus membuat sekolah menempuh segala cara, termasuk membocorkan jawaban soal agar siswa-siswinya dapat lulus 100%. Dilema penyelenggaraan UNAS memunculkan wacana baru agar UNAS dilaksanakan di sekolah, hal ini bukanlah tanpa resiko apabila sekolah belum mampu menyelenggarakan ujian sendiri sehingga menambah kekhawatiran terhadap mutu lulusan sebuah sekolah dengan sekolah yang lain.
Ujian kesetaraan yang diharapkan menjadi solusi bagi siswa-siswi yang dinyatakan tidak lulus nyatanya belum mampu mengatasi persoalan. Mepetnya pengumuman kelulusan dengan jadwal ujian kesetaraan menyebabkan banyak siswa-siswi yang gagal lulus terlambat mendaftar ujian ulang, sebagian enggan mengikuti ujian ulang karena sudah letih dan malas. Memang mayoritas sekolah mengadakan bimbingan tes dan pendalaman materi selama berbulan-bulan dan fokus pada materi yang di-UNAS-kan dengan harapan dapat meluluskan siswanya,namun ada pula beberapa sekolah yang baru menyelenggarakan bimbingan belajar 3-4 bulan sebelum UNAS sehingga peserta ujian dengan materi seadanya harus mencari tambahan materi pelajaran di tempat lain (bimbingan belajar). Apabila pemerintah bersungguh-sungguh ingin meningkatkan kualitas pendidikan, dengan anggaran pendidikan 20% dari APBN tentu sanggup mengubah kebijakan ujian nasional yang tidak memberatkan siswa, guru dan orangtua sehingga dana penyelenggaraan UNAS yang menelan biaya besar menjadi tidak sia-sia.
2. Strategi sekolah dalam mensukseskan UNAS
Untuk menghadapi ujian nasional yang makin berat tiap tahunnya. Diperlukan cara-cara belajar yang tepat dan benar agar dapat memperoleh nilai yang memuaskan. Mengigangat batas kelulusan UNAS (Ujian Nasional) akan terus meningkat dari tahun ke tahun, kita haruslah jeli dalam menyikapinya. Berikut tips UNAS (Ujian Nasional) yang dapat kita terapkan agar dapat lulus dengan nilai memuaskan (walaupun tidak menjamin);
a. Bagi siswa
1) Belajarlah dengan disiplin.
2) Ikutlah Bimbingan Belajar Intensif Ujian Nasional.
3) Buatlah jadwal untuk latihan soal ujian Nasional.
4) Luangkan lebih banyak waktu untuk mempelajari pelajaraan yang anda anggap paling sulit.
5) Cobalah untuk mengikuti Try Out UNAS (Ujian Nasional).
6) Carilah soal-soal Prediksi UNAS (Ujian Nasional).
7) Download soal-soal UNAS (Ujian Nasional) tahun-tahun sebelumnya.
8) Banyak berdoa dan beramal.
Dengan usaha-usaha yang kita lakukan, tentunya mudah untuk menembus batas minimal kelulusan Ujian Nasional. Manfaatkanlah internet untuk memperoleh tambahan soal dengan download soal ujian Nasional SD, SMP maupun SMA. Caranya mudah, cukup tulis “Download Soal UNAS” di Google/ Yahoo/ search engine lain. Dengan cara itu, maka lulus ujian nasional bukanlah hal yang sulit dicapai. Singkat kata, dengan kondisi yang menuntut kita untuk menjadi siswa yang mampu lulus ujian nasional, hendaknya kita mulai mempersiapkan diri kita dari sekarang. Ikutlah berbagai Try Out ujian Nasional, Bimbingan Belajar/Kursus Intensif Ujian Nasional, atau dengan mendownload soal-soal Ujian Nasional.
b. Bagi Sekolah
1) Identifikasi siswa sejak kenaikan kelas 4 untuk SD, kelas 2 untuk SMP dan SMA, untuk memilih siswa-siswa yang memiliki kepandaian baik atau tinggi/unggul.
2) Siswa yang sudah diseleksi dikumpulkan dalam satu kelas, untuk diberikan pembelajaran yang intensif dan terprogram.
3) Mulai mendaftarkan siswa sebagai peserta UNAS yang sudah disesuaikan dengan ruang dan lokasi siswa yang didalamnya terdapat siswa-siswa yang sudah diunggulkan.
4) Melaksanakan “cemeti diri” artinya pada jam ke 0 siswa kelas IX diberikan beberapa soal UNAS sesuai dengan bidang studi dan muatan kualitas soal.
5) Penerapan les (kokurikuler) setidaknya membutuhkan 4 jam pelajaran hanya satu pelajaran saja setiap les. Jadi setiap minggu siswa melaksanakan les sebanyak 4 kali.
6) Pada detik-detik menjelang 2 minggu sebelum dilaksanakan UNAS, segala pelajaran yang tidak di UNAS kan, dimohon untuk memberikan pembelajaran setelah UNAS selesai. Artinya selama 2 minggu siswa di “tritmen” khusus bidang studi UNAS.
7) Melaksanakan try out minimal setiap 2 minggu sekali, bisa diselenggarakan sekolah, kabupaten atau propinsi.

3. Analisis Tiem Sukses UNAS Sekolah “bukan kecurangan tapi penyelamatan”
Kata yang paling indah dalam pelaksanaan UNAS antara sekolah dan pemerintah adalah “Simbiosis Mutualisme” artinya saling menguntungkan. Terlepas dari apa yang sekolah/guru lakukan usahakan hasil pendidikan melalui UNAS menjadi baik bahkan setiap tahunnya harus lebih baik (ada unsur politik tentunya). Jika terjadi pelanggaran yang dilakukan sekolah dan bisa diketahui oleh pemerintah sungguh perbuatan tersebut tidak harus terjadi, artinya dalam pelaksanaannya dimungkinkan sudah melampui batas atau strateginya kurang baik dan jitu, terbukti masih diketahui oleh tim pemantau UNAS.
Disinilah letak egosentrisnya pemerintah, karena itu, para guru yang mengetahui proses memperingatkan pemerintah agar tidak menjadikan tingginya persentase kelulusan sebagai indikator peningkatan mutu pendidikan nasional. Para guru bukannya tidak mengetahui risiko atas apa yang dilakukannya, tapi nurani mereka berontak. Selama lima kali pelaksanaan ujian nasional, harus diam dan terus membodohi diri sendiri hanya untuk memuaskan kepentingan atasan. Selain itu, ujian nasional telah merampas hak pedagogis dalam menentukan kelulusan. Mereka yang mengetahui seluk-beluk mengenai murid, tapi kemudian pemerintah yang memutuskan siapa yang berhak atau tidak berhak lulus. Intervensi tersebut jelas menggambarkan rendahnya kadar kepercayaan pemerintah terhadap guru.
Apa yang diungkapkan oleh para guru sungguh mencengangkan. Ujian nasional, yang oleh pemerintah diharapkan mampu mendorong murid agar belajar lebih giat, ternyata dimanipulasi secara sistemik. Setidaknya ada beberapa modus yang digunakan dalam kecurangan ujian nasional yang memposisikan guru sebagai operator. Hal tersebut dilakukan bukan kecurangan yang dilakukan melainkan penyelamatan agar siswa bisa berhasil dan mampu melanjutkan hidupnya tanpa dibebani faktor kelulusan dalam pendidikan.
Wal hasil, jika siswa mendapatkan nilai baik dengan menggunakan tim sukses UNAS sekolah entah apa yang dikatakan “curang atau penyelamatan”, maka pihak dinas pendidikan dari tingkat kecamatan, kabupaten, propinsi bahkan sampai pada nasional juga merasakan hasilnya. Artinya menteri pendidikan nasional sudah berhasil dan sukses secara nasional mencerdaskan kehidupan bangsa melalui kebijakan yang diberi nama UNAS.
Beberapa kecurangan untuk penyelamatan yang telah dilakukan oleh sekolah/guru dalam keberhasilan UNAS bagi siswa-siswinya secara nasional dapat dipaparkan dalam penemuan kasus-kasus tertentu, baik secara pantauan individu, media massa atau kasak-kusuk pengalaman pribadi, yaitu sebagai berikut :
a. Sebelum ujian nasional dilaksanakan. Cara yang dipakai dengan membocorkan soal. Misalnya pengakuan murid melalui investigasi media televisi di Garut, mereka diperintahkan datang lebih awal ke sekolah agar bisa memperoleh jawaban dari guru. Soal sudah dibuka melalui perendamana air pabas pada sampul UNAS, kemudian diseterika dan akhirnya “Bum” sampul terbuka dengan mudah, setelah dicopy dengan copy printer dikembalikan seperti semula dan lebel “Rahasia” tetap terjaga dengan baik.
b. Jawaban dibuat pada saat ujian. Biasanya dilakukan oleh tim, yang berisi guru bidang studi. Proses distribusi jawaban bervariasi, ada yang pergi ke kamar mandi dan dikamar mandi tersebut guru memberikan jawaban. Dalam satu kelas, satu atau dua murid dijadikan sebagai simpul. Mereka bertugas menerima dan membagikan jawaban kepada yang lain melalui kode tertentu. Ada pula yang memakai kertas kecil atau kertas unyil. Murid mengambilnya di tempat yang sudah disepakati dengan tim. Ada yang ditulis di lembar soal kemudian soal ditukar sampai satu ruangan bisa menulis jawabannya.
c. Tim bekerja setelah ujian nasional selesai. Biasanya murid diminta tidak menjawab pertanyaan yang dianggap sulit karena nantinya tim yang akan mengisi. Tapi ada pula yang membiarkan murid menjawab. Apabila salah, tugas tim yang akan membetulkan.
d. Jika sudah membuat kelas unggulan maka siswa yang sudah unggul disebar ke seluruh ruang kelas dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Jika satu ruang terdiri dari 20 siswa, maka siswa yang unggul ditempatkan pada posisi ditengah-tengah. Satu siswa yang unggul diserahi 4 orang siswa agar mau memberikan jawaban kepada temannya.
2) Cara memberikan jawaban dengan cara jawaban yang sudah final diletakkan di tangan dalam posisi berdiri, sehingga siswa dibelakangnya bisa melihat.
3) Siswa yang sudah bisa melihat diberikan pada siswa yang lain, dan begitu seterusnya.
e. Bekerja sama dengan pengawas agar memberikan kesempatan pada siswa agar boleh bekerjasama dengan teman lainnya. Kerjasama ini betul-betul ditampilkan yang sebaik mungkin dan terkesan sungguh-sungguh.
f. Srategi lainnya bisa dilakukan saat panitia pergi mengantar soal sampai di jalan panitia pergi ke salah satu tempat yang sudah ditentukan untuk mengganti jawaban siswa. Untuk kejadian ini biasanya dilakukan pada sekolah-sekolah yang memiliki siswa sedikit antara 3 sampai 10 orang siswa. Begitu juga dilakukan jika rentang jalan antara sekolah dan kantor jauh.
Walau lokasi kecurangan untuk penyelamatan umumnya terjadi di sekolah, bukan berarti Departemen Pendidikan Nasional bisa lepas tanggung jawab. Sebab, sumber masalahnya ada pada kebijakan ujian nasional. Melalui ujian nasional, pemerintah telah melakukan re-sentralisasi pendidikan, padahal di sisi lain, pelayanan dan pembiayaan cenderung didesentralisasi. Dasar Desentralisasi adalah asumsi bahwa biang keladi buruknya mutu pendidikan adalah guru dan murid malas belajar. Agar mereka rajin, penentuan kelulusan harus diambil alih. Padahal pemerintah sendiri telah gagal dalam menjalankan kewajiban menyediakan layanan pendidikan bermutu, yang membuat guru dan murid tidak nyaman dalam menjalankan proses belajar-mengajar.
Melalui kebijakan ujian nasional, daerah dan sekolah dipaksa membenarkan asumsi pemerintah. Padahal kondisinya tidak memungkinkan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Pelayanan pendidikan di daerah umumnya masih buruk. Karena itu, dipilih cara instan, yaitu dengan melakukan manipulasi. Apalagi hasil ujian nasional juga mempertaruhkan citra daerah dan sekolah. Tidak mengherankan apabila terjadi penekanan secara berjenjang. Pemerintah daerah yang merasa tertekan pemerintah pusat akan menekan sekolah.
Ambil contoh pada bupati mengancam akan memutasi kepala sekolah yang kelulusan muridnya di bawah 95 persen (Republika, 17 Mei 2006). Dengan demikian, ujian nasional sudah tidak lagi berhubungan dengan kepentingan pendidikan, tapi telah menjadi alat untuk mencapai kepentingan politik. Satu sisi bisa memuaskan kebutuhan pemerintah pusat, pada sisi lain mempermanis wajah birokrasi daerah supaya dianggap berhasil memajukan pendidikan.
Pada akhirnya, kebijakan ujian nasional kontraproduktif bagi pendidikan nasional. “Tujuan yang ingin dicapai gagal, sedangkan yang didapat hanyalah masalah”. Kecurangan sistemik tidak hanya mengaburkan pemetaan mengenai kondisi pendidikan nasional, tapi juga berdampak buruk bagi guru dan murid. Kreativitas murid terkungkung. Mereka dipaksa mengalokasikan porsi belajar lebih besar pada mata pelajaran pilihan pemerintah. Padahal tujuan pendidikan sesungguhnya adalah membentuk manusia cerdas, penuh kreativitas, dan mandiri serta dapat mengatasi segala persoalan yang dihadapi. Semua tujuan ini akan tercapai jika murid diberi banyak waktu dan kesempatan untuk mengaktualisasi dirinya dalam berbagai macam pelajaran yang ada di sekolah.
Selain itu, atas alasan gengsi daerah dan sekolah serta memuaskan pemerintah pusat, semangat belajar dan bekerja keras para murid dan guru telah dihancurkan. Tidak ada lagi penghargaan bagi mereka yang mau bersusah payah belajar, karena semuanya sudah diambil alih oleh tim sukses ujian nasional. Dampak paling berbahaya adalah tertanamnya mental terabas di kalangan murid. Lewat kecurangan, mereka secara tidak langsung telah diajari agar tidak lagi menghargai proses. Cara apa pun boleh digunakan, halal ataupun haram, asalkan tujuan bisa tercapai. Tentu saja kondisi ini bertolak belakang dengan tujuan pendidikan.
Karena itu, apabila yang dijadikan solusi hanyalah menghukum atau memberi sanksi kepada daerah atau sekolah yang curang, masalah tidak akan selesai. Justru yang harus dilakukan pemerintah adalah menghilangkan akar masalah utamanya, yaitu kebijakan ujian nasional. Pemerintah harus mulai mengubah mental “trabas” dengan mental kerja keras. Apabila menginginkan mutu pendidikan bagus, harus dimulai dengan memberi pelayanan yang bagus pula.


D. Penutup
Berdasarkan uraian di atas tentang dilema sukses UNAS dan tim sukses, dapat disimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh tim sukses UNAS bukan kecurangan melainkan penyelamatan berstruktur yang mengandung unsur politik. Jika boleh bicara secara kasar “ silahkan lakukan kecurangan yang sebaik mungkin yang penting dapat hasil baik dan jangan ketahuan, jika ketahuan anda akan saya hukum yang seringan mungkin”. Penyelamatan UNAS siswa juga dipengaruhi oleh gengsi daerah dan sekolah serta memuaskan pemerintah pusat, semangat belajar dan bekerja keras para murid dan guru telah dihancurkan. Tidak ada lagi penghargaan bagi mereka yang mau berusaha keras dan susah payah belajar, karena semuanya sudah diambil alih oleh tim sukses ujian nasional.
Dampak paling berbahaya adalah tertanamnya mental “trabas“ (memotong jalan yang singkat tanpa memperdulikan akibat) di kalangan murid. Lewat kecurangan, mereka secara tidak langsung telah diajari agar tidak lagi menghargai proses, cara apa pun boleh digunakan, halal ataupun haram, asalkan tujuan bisa tercapai. Tentu saja kondisi ini bertolak belakang dengan tujuan pendidikan.










Daftar Pustaka

Gaffta, Perencanaan Pendidikan Teori dan Metodologi, (Jakarta: P2LPTK, 1989).

http://aripjeddah.multiply.com/journal, Uraian Tugas Guru, Wakasek, Koordinator Litbang Dan Pegawai, posted; 25 Mei 2008.

http:WWW.Dikbud.com/Balitbangdikbud. 1993/1994. Seri Kebijaksanaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Pendidikan Dasar, Jakarta.

Mulyasa, E, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), cet. Ke-10.

Undang-undang Sisten Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003, Bab XI, pasal 40, ayat 2, (Bandung: Fokus Media, 2003), cet.II.

Bagikan Artikel ini ke Facebook