E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

PERSPEKTIF GENDER

Dibaca: 141 kali, Dalam kategori: Agama, Diposting oleh: H. ZUDI RAHMANTO, S.Ag. M.Ag. lihat profil
pada tanggal: 2018-09-03 11:36:00 wib


GENDER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

1. Pendahuluan

Pengarustamaan Gender (PUG) merupakan terjemahan dari Gender Mainstreaming. PUG telah menjadi kebijakan pemerintah dalam pembangunan Nasional yang tertuang dalam Undang-undang No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) dan Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender. Kebijakan pengarustamaan Gender itu dimaksudkan agar semua sektor pemerintah di semua tingkatan secara mandiri melakukan upaya-upaya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.
Islam sebagai Agama Samawi diturunkan untuk membimbing manusia kepada kehidupan yang lebih baik. Kondisi itu dapat berujud kehidupan yang lebih adil dan harmonis (dalam bahasa umum yang dipergunakan min al-dlulumāt ila al-nūr). Meski Ajaran Islam hadir dengan bahasa dan cara berfikir masyarakat setempat di mana agama itu diturunkan, namun memberi petunjuk terbukanya ruang yang menuju kepada perbaikan masyarakat. Perubahan tersebut ada yang langsung melalui teks yang turun berbeda dengan kondisi yang berasa di masyarakat, misalnya hal yang berkaitan dengan keyakinan dan penyembahan kepada Allah, mengubah keyakinan dan penyembahan terhadap berhala, ada yang dilakukan secara bertahap seperti pengharaman khamr. Namun ada yang diberi ruang untuk perkembangan masyarakat dengan memberikan sinyal petunjuk yang bersifat umum yang mengarah kepada perubahan tersebut.
2. Gender Mainsteaming
Manusia lahir telah membawa hal-hal yang bersifat kodrati yang mempengaruhi kehidupannya. Di antara hal yang bersifat kodrati tersebut adalah jenis kelamin. baik laki-laki atau perempuan dan ada pula sebahagian yang memiliki persimpangan antara keduanya. Yang dimaksudkan jenis kelamin (sex) adalah perbedaan biologis, hormonal dan patologis antara perempuan dan laki-laki, misalnya perempuan memiliki vagina, payudara, ovum dan rahim, sedangkan laki-laki memiliki penis, testis dan sperma. Dari kondisi biologis yang berbeda antara perempuan dan laki-laki, masing-masing mempunyai kelebihan dan keterbatasan. Misalnya perempuan dapat mengandung, melahirkan dan menyusui anak bayinya dan laki-laki tidak , ia hanyalah mampu memproduksi sperma saja.
Perbedaan jenis dalam masyarakat yang bersifat kodrati antara laki-laki dan perempuan, itu lama kelamaan membentuk pandangan, yang menempatkan pihak perempuan dalam posisi yang dipinggirkan, sehingga muncul ketidak setaraan serta ketidak adilan. Pandangan itu selanjutnya memunculkan kesan kemampuannya juga dianggap berbeda, sehingga haknya pun tidak sepenuhnya sama. Ketidak adilan itu berlanjut pada penghargaan / gaji yang berbeda atas jasa dari pekerjaan yang sama. Perempuan juga dianggap hanya memiliki peran domestik dalam keluarga saja, dan sering dikesankan hanya bertugas melayani laki-laki dan tidak pernah berhak mendapat pelayanan dsb.
Akar penyebabnya adalah dampak budaya patriarchi yang menempatkan laki-laki sebagai memimpin dan memiliki peran sentral dalam masyarakat. Di samping juga aliran budaya yang terbentuk dalam perjalanan kehidupan masyarakat sejak dahulu memang harus diubah dan ditata kembali. Banyak budaya itu yang dianggap memberi andil terhadap ketidak adilan (gender inequalities). Terkadang agama juga dianggap memberi ruang untuk melanggengkan ketidak adilan itu, meski banyak pemikir agama yang menganggap hal itu sekedar dimanfaatkan oleh orang yang telah memiliki konsep tersebut, atau harus diakui bahwa teks-teks agama tidak mungkin lepas dari aspek budaya masyarakat, di tempat agama di mana agama itu diturunkan karena agama harus terlibat dalam penggunaan linguistik, tata cara dan bertutur dalam kondisi yang telah terisi budaya. Namun apabila kita melihat dari teks-teks yang lebih luas maka sangat jelas mengarahkan pada dinamika masyarakat menuju bentuk harmoni yang bersifat univesal. Dan menurut hemat kami itulah yang menjadikan agama (Islam, misalnya) dipandang memiliki nilai universalitas dalam kehidupan yang berperadaban.
Apabila demikian maka sebenarnya ketidaksetaraan dan ketidak-adilan bahkan segala macam kekerasan dalam hubungan jenis manusia perempuan dan laki-laki adalah produk budaya masyarakat yang dipengaruhi oleh tempat, waktu/ masa, suku/ ras/bangsa ,budaya, status sosial, negara bahkan juga agama, dan dapat dilakukan pengubahan berdasarkan dinamika masyarakat yang semakin maju dan berkembang.
Pengertian Gender sering diartikan dengan jenis kelamin, bahkan sering diartikan dengan Jenis Kelamin perempuan. Kesalahan ini tidak hanya terjadi pada kalangan awam namun juga di kalangaan terpelajar. Adapun yang dimaksud dengan Jender adalah “seperangkat sikap, peran, tanggung jawab, fungsi dan hak dan perilaku yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungan masyarakat tempat manusia itu tumbuh” (Musdah Mulia, Marzani Anwar;2001;hal. xii). Lebih lanjut Moh Roqib dalam bukunya Pendidikan Perempuan (2003 : hal 111) menyatakan gender adalah ”pembagian peran manusia pada maskulin dan feminin yang di dalamnya terkandung peran dan sifat yang dilekatkan oleh masyarakat kepada kaum laki-laki dan kaum perempuan dan dikontruksikan secara sosial atau kultural”. Peran dan sifat gender dapat dipertukarkan dan tidak bersifat permanen, dan berbeda pada daerah, kultur dan periode tertentu. Peran laki-laki dan perempuan yang dibangun oleh kondisi sosial dan kultural inilah yang bisa menimbulkan ketidak adilan gender dalam bentuk marginalisasi, subordinasi, stereotip, diskriminasi, kekerasan , beban kerja ganda dan ketidak sesuaian dengan proporsinya . Dapat dicontohkan laki-laki sering digambarkan sebagai manusia yang kuat, rasional, perkasa berani dan tegar, sedangkan wanita digambarkan sebagai lemah, pemalu, penakut, emosional, rapuh dan lembut – gemulai. Memang kesan perbedaan laki-laki dan perempuan yang khas seperti dinyatakan itu merupakan hasil belajar seorang melalui proses sosialisasi yang panjang di lingkungan masyarakat. Ciri khas yang dikesankan seperti itu dinamakan maskulitas dan feminitas yang bukan sesuatu yang kodrati sehingga dapat berubah karena perubahan waktu dan tempat. Jadi sebagai kesimpulannya Gender adalah “suatu konsep yang mengacu pada peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan sebagai hasil kontruksi sosial yang dapat diubah sesauai dengan perubahan zaman” (Musdah Mulia dalam Keadilan dan Kesetaraan Jender hal: xiii)
3. Pandangan Islam Tentang Gender.
Petunjuk yang umum bahwa Agama Islam:
a. Islam menghargai dan tidak membeda-bedakan jenis.
Firman Allah Q.S. An-Nisa’ :1 :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (١)
Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.
Maksud bahwa manusia berasal seorang diri (nafs wahidah). Menurut jumhur mufassirin ialah wanita berasal dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ , وَاسْتَوْصُوْابِالنِّسَاءِخَيْرًا فَاِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضَلْعٍ أَعْوَجَ وَاِنَّ مِنْ اَعْوَجَ شَيْءٍ فِى الضَّلْعِ أَعْلاَهُ اِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ وَاِنْ تَرَكَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ
Hadits ini terkadang difahami sebagai ujud missoginis terhadap wanita, namun jika dipandang dari konteksnya dapat difahami sebagai bentuk informasi agar pria memahami kondisi psikhologis seorang wanita, yakni wanita itu diciptakan dari sesuatu yang bengkok sehingga perlu difahami oleh siapapun yang akan menjaga silaturahim dengan baik.Oleh karenanya dalam beberapa buku dimasukkan dalam bab “hifdl rifqan bi al-qarārir” yang diartikan sebagai ‘menjaga pecah belah’.
Mufassirin lain ada yang menafsirkan bahwa wanita diciptakan dari unsur yang serupa, yakni dari unsur tanah, sebagaimana Adam a.s. diciptakan. Ayat tersebut menunjukkan pula adanya kesetaraan yakni bahwa kita saling membutuhkan satu dengan yang lain sehingga harus terus memelihara silaturahim.
b. Diciptakan lelaki dan perempuan untuk saling memahami,
c. Kemuliaan seseorang menurut pandangan Allah adalah karena ketakwaannya.
Dua hal tersebut difahami dari firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوأ أِنَّا خَلَقَكُنَمْ مِنْ ذَكّرٍ وَاُنْثَيَ وَجَعَلْنَكُم سُعُوْبًا وَقَبَا ئِلَ لُتَعَارَفُوا اِنَّ اَكْرَمَكِمْ عِنْدَالله ِ أَتْقَاكُمْ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman Kami (Allah) menciptakan kamu dari (jenis) lelaki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu...”.
Ayat ini menunjukkan perlunya interaksi antar jenis, suku dan bangsa agar saling memahami dan menenali masing-masing. Derajad kesamaan sesama manusia termasuk yang berbeda jenis sedemikian ditekankan, karena kemulian bukan karena jenis laki-laki atau perempuannya namun pada aspek keseungguhan bertakwa.
d. Implementasi sifat sifat orang ketakwaan di antara lelaki dan wanita disejajarkan dalam beberapa ayat al-Qur’an.
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab (33):35 :
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (٣٥)
Artinya : Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Penyejajaran laki-laki dan perempuan dalam ayat tersebut dan juga ayat lain yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an bukan tanpa maksud atau secara kebetulan saja namun memberi petunjuk bahwa lelaki dan perempuan memiliki kesejajaran dalam melakukan amal dan dalam penilaian Allah SWT terhadap amal tersebut.
e. Masing masing memiliki hak keterwakilan dalam “hakam’
Q.S. An-Nisa’ : 35
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا
Artinya : “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”
f. Penghormatan anak terhadap kedua orang tua didasarkan peran penting yang dimainkan dalam mendidik dan memeliharanya.
Hal tersebut sangat jelas dapar difahami dari hadits Rasulullah ketika seseorang menanyakan kepada beliau tentang siapa orang ia harus berbakti. Kata Rasulullah ‘Ibumu”, Kemudian siapa Ya Rasulullah ? Jawab Rasul : “Ibumu’, Kemudian siapa Ya Rasulullah ? Jawab Rasul : “Ibumu’, Kemudian siapa lagi Ya Rasululah ? Jawab Rasul : ‘Ayahmu’. HR
g. Umar ibn Khaththab mengalami perubahan paradigma mengenai Jender.
Pemahaman terhadap sifat lawan jenis dalam atsar ditemukan perubahan yang sangat kontradiktif pada diri Umar Ibn Khaththab yang sebelum memeluk Islam merefleksikan sikap bangsa Arab di masanya dengan membenci bahkan mengubur anak prempuannya, namun menjadi contoh yang sangat fenomenal menjadi seorang yang sangat menghormati peran wanita, sebagaiman kita temukan dalam riwayat laki-laki yang melaporkan istrinya ketika isterinya mengomeli sepanjang pagi, ternyata beliau memberikan nasehat agar bersifat sabar terhadap wanita itu karena peran yang telah diwujudkan dalam menegakkan keluarga

4. Penutup.
Kritik yang selama ini diarahkan kepada Islam yang dianggap sebagai agama yang dalam teks-teks ajarannya mengandung gender inqualities. Pemahaman tersebut dikarenakan beberapa sebab pertama karena sudut pandang pemahaman, kedua pemikiran orang yang menafsirkan, menguraikan/ mengajarkan, ketiga lingkungan pemahaman masyarakat setempat ketika substansi diuraikan, keempat kepicikan seseorang, di antaranya hanya memahami secara tekstual bukan secara konstektual. Kelima sebagian karena ketidak mampuan mengintegrasikan dengan ayat-ayat lain yang sekarang dikenal dengan penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Penafsiran ini dengan mengumpulkan makna dari istilah tertentu yang terdapat dalam Al-Qur’an, kemudian mengambil makna secara umum yang digunakan untuk memahami keluasan petunjuk Al-Qur’an yang universal. Cara semacam ini lebih memungkinkan memahami arah maksud yang diinginkan oleh Al-Qur’an.

Bagikan Artikel ini ke Facebook