E-KINERJA.COM

Laporan Harian, Penyimpanan Dokumen, Publikasi Artikel/ Tulisan, dan Chatting

Kualitas Renungan dan Kekuatan Bertanya

Dibaca: 1237 kali, Dalam kategori: Motivasi, Diposting oleh: Chansa Luthfiyyah, S.Psi lihat profil
pada tanggal: 2015-06-22 06:19:47 wib


Kualitas Renungan dan Kekuatan BertanyaKenapa ada renungan ? kenapa harus bertanya ?
Renungan merupakan refleksi diri manusia terhadap hal-hal yang telah dilakukannya. Dalam proses renungan biasanya selalu mencul pertanyaan. Kenapa harus bertanya? karena kita tidak tahu dan ingin tahu! Siapapun kita, apabila tidak tahu maka obatnya adalah bertanya, walaupun cara setiap orang bertanya akan berbeda aksentuasinya.
Dikalangan para sufi dikenal untaian kalimat indah yang menunjukkan empat tipe manusia :
1. La yadri wa yadri annahu la yadri
Tipe orang yang tidak tahu, tetapi mengetahui bahwa dirinya tidak tahu. Orang yang seperti ini disebut orang yang bodohnya lumayan (qabil basith)
2. Yadri, wala yadri annahu yadri
Tipe orang yang tahu,tetapi dia tidak mengetahui bahwa dirinya tahu. Orang seperti ini dapat dikategorikan sebagai orang yang sedang tidur dan harus segera dibangunkan/diingatkan agar dirinya menyadari.
3. Yadri wa yadri annahu yadri
Tipe orang yang tahu dan dia mengetahui bahwa dirinya tahu. Orang seperti ini termasuk dalam kategori manusia yang bijaksana (Al Hukama) yang mempu memberikan pelita ilmu kepada orang lain.
4. La yadri wala yadri annahu la yadri
Tipe orang yang tidak tahu dan dia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak tahu. Tipe manusia seperti ini adalah manusia yang paling sengsara. Kepadanya diberikan gelar manusia yang memiliki kebodohan pangkat dua (jahil muroqqob).

Agar bisa menempatkan diri pada posisi orang bijak (Al Hukama), maka kita membutuhkan perenungan yang melahirkan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini akan melahirkan upaya untuk memperoleh jawaban. Pun ketika kita sudah mendapatkan jawaban, biasanya kita akan merasa tidak cukup puas, sehingga harus kembali mempertanyakan jawaban tersebut sebagai kaji ulang untuk mendapatkan hakikat kebenaran.

Dengan mempertanyakan eksistensi diri kita dan peran kehidupan yang kita jalani dalam bentuk aktifitas kerja prestatif (amal sholeh), maka kita berharap akan memperoleh suatu jawaban bahwa dengan bekerja, hidup kita akan memperoleh nilai.

Kita juga akan selalu bertanya pada lingkungan, terhadap fenomena yang ada, kemudian kita akan merangkumnya sebagai bekal energi untuk mencapai karya prestasi bagi hidup dan kehidupan Islami.

Peradaban dan sumbangan keilmuan Islam sesungguhnya lahir dari proses bertanya. Manusia yang kehilangan rasa ingin tahunya (curiousity) adalah manusia yang mandul yang hanya akan menjadi spare parts dari setiap perangkat budaya dunia.

Dalam Al-Qur'an, ayat yang paling awal turun adalah Iqra. Iqra ini mempunyai maka khusus agar setiap muslim mampu membaca, tidak hanya membaca dalam arti harfiah saja, tetapi membaca dalam arti yang sangat luas yang berarti perintah agar kita mampu menganalisa, mengetahui fakta serta sensitif terhadap lingkungan yang ada.
Iqra merupakan getaran jiwa yang seharusnya mampu menjadi pisau bedah bermata dua, yaitu ke dalam sebagai alat instrospeksi diri, perenungan dan dzikir serta keluar sebagai alat untuk melihat fakta, menimbang informasi dan sebagai bahan membuat keputusan dan berperilaku. Dengan kata lain Iqra berarti sebuah gedoran bagi kita agar mau berintrospeksi, mau berhenti sebentar dari segala kesibukan, melakukan perenungan (contemplation) untuk memperoleh jawaban. Apa makna hidup, dimana posisi kita dalam percaturan pergaulan, apa yang bisa kita sumbangkan bagi manusia dan alam semesta sebagai rahmatan lil alamin dan lain-lain.

Kita melakukan penarikan diri sementara waktu dari segala keterlibatan dunia, melakukan distansi atau jarak sesaaat untuk melihat wujud diri kita sendiri. Kita tidak perlu bertapa atau berangkat mencari gua-gua hiro yang baru, karena sarananya sudah sedemikan Allah mudahkan untuk kita melalui tawajuh kita dalam sholat-sholat yang panjang, sholatul lail atau tahajud, sujud yang khusyu' dan do'a yang penuh harap, serta dzikir bathin untuk mempertanyakan diri kita di hadapan Allaah SWT sehingga kita bisa kembali mendapatkan energi untuk menjalani aktifitas kehidupan dunia kita.

Orang yang tidak mau merenung dan mempertanyakan dirinya adalah manusia yang kehilangan senjata untuk memanusiakan dirinya sendiri. Seluruh sikap dan tingkah laku serta cara berfikir kita sekarang ini, merupakan proses panjang dari rangkaian pertanyaan tentang diri kita sendiri.

Masya Allaah betapa kualitas merenung dan kemampuan bertanya merupakan baterai yang akan merecharge kembali jiwa, pikiran dan semangat kita untuk bekerja mencapai prestasi dalam hidup dan kehidupan. Wallohu'alam...

Bagikan Artikel ini ke Facebook